Inilah 5 Makanan yang Bisa Tingkatkan Risiko Kanker, Wajib Tahu!
Wisenfin – Kanker masih menjadi salah satu penyakit paling mematikan di dunia. Penyebabnya pun cukup beragam, mulai dari faktor keturunan, gaya hidup tidak sehat, hingga pola makan sehari-hari yang sering dianggap sepele.
Menariknya, sejumlah penelitian menemukan bahwa beberapa makanan yang sangat akrab di meja makan ternyata bisa meningkatkan risiko kanker jika dikonsumsi terlalu sering.
Penyebab utamanya berasal dari senyawa bernama akrilamida, zat kimia yang terbentuk saat makanan diproses menggunakan suhu tinggi seperti digoreng, dipanggang, atau dibakar.
Meski belum semua dampaknya dipastikan secara mutlak pada manusia, banyak lembaga kesehatan dunia mulai menyarankan masyarakat untuk membatasi konsumsi makanan tinggi akrilamida demi menjaga kesehatan jangka panjang. Lalu, makanan apa saja yang perlu lebih diperhatikan? Berikut ulasan lengkapnya!
Apa Itu Akrilamida dan Kenapa Bisa Berbahaya?
Akrilamida adalah senyawa kimia yang biasanya terbentuk pada makanan berbahan dasar pati saat dimasak dalam suhu tinggi, terutama di atas 120 derajat Celsius.
Proses ini sering terjadi ketika makanan digoreng, dipanggang terlalu lama, atau dibakar hingga kecokelatan bahkan gosong.
Beberapa penelitian menyebut akrilamida termasuk zat yang berpotensi bersifat karsinogenik atau dapat meningkatkan risiko kanker.
Meski penelitian terus berkembang, mengurangi konsumsi makanan tinggi akrilamida tetap dianggap langkah bijak untuk menjaga kesehatan tubuh.
Selain itu, makanan yang diproses berlebihan biasanya juga tinggi lemak, gula, dan garam yang dapat memicu berbagai masalah kesehatan lainnya.
1. Kentang Goreng dan Keripik
Siapa yang tidak suka kentang goreng atau keripik kentang? Sayangnya, camilan favorit banyak orang ini termasuk salah satu sumber akrilamida paling tinggi.
Saat kentang dipanaskan dalam suhu tinggi, gula alami dan asam amino di dalamnya bereaksi membentuk senyawa akrilamida. Semakin garing dan gelap warnanya, biasanya kandungan zat tersebut juga semakin meningkat.
Keripik kentang bahkan disebut memiliki kadar akrilamida yang cukup tinggi dibanding banyak makanan lain.
Bukan berarti harus berhenti total mengonsumsi kentang goreng, tetapi ada baiknya mengurangi frekuensi makan serta menghindari tekstur yang terlalu gosong. Memasak dengan cara direbus atau menggunakan air fryer juga bisa menjadi alternatif yang lebih sehat.
2. Biskuit dan Kue Kering Kemasan
Biskuit dan camilan kering kemasan sering jadi teman minum teh atau kopi. Namun makanan ini ternyata juga berpotensi mengandung akrilamida cukup tinggi.
Proses pemanggangan suhu tinggi menjadi salah satu penyebab utama terbentuknya senyawa tersebut. Ditambah lagi, banyak produk kemasan mengandung gula rafinasi dan bahan tambahan lain yang jika dikonsumsi berlebihan kurang baik untuk kesehatan.
Sebagai pilihan yang lebih sehat, banyak ahli menyarankan membuat camilan sendiri di rumah menggunakan bahan alami seperti tepung gandum utuh dan gula yang lebih rendah. Selain lebih aman, camilan homemade juga biasanya minim bahan pengawet.
3. Roti Panggang Gosong
Banyak orang sengaja memanggang roti hingga sangat kecokelatan karena dianggap lebih enak dan renyah. Padahal, roti yang terlalu gosong justru berpotensi mengandung lebih banyak akrilamida.
Warna cokelat gelap pada roti menunjukkan proses pemanasan berlebihan yang memicu pembentukan zat kimia tersebut.
Karena itu, disarankan memanggang roti secukupnya saja tanpa harus sampai hangus. Memilih roti gandum utuh atau multigrain juga bisa menjadi opsi yang lebih baik karena kandungan seratnya lebih tinggi.
Kebiasaan kecil seperti ini ternyata bisa berdampak besar untuk kesehatan jangka panjang.
4. Kopi
Banyak orang mungkin tidak menyangka kalau kopi juga mengandung akrilamida. Senyawa ini muncul saat proses pemanggangan biji kopi.
Namun tidak perlu panik atau langsung berhenti minum kopi. Kandungan akrilamida dalam kopi umumnya masih dalam batas tertentu dan konsumsi kopi secukupnya masih dianggap aman bagi kebanyakan orang.
Yang perlu diperhatikan adalah pola konsumsi berlebihan, terutama jika kopi diminum saat perut kosong. Selain karena kandungan akrilamida, kopi yang bersifat asam juga dapat memicu masalah lambung seperti refluks asam dan gastritis.
Mengatur jumlah konsumsi harian menjadi langkah paling bijak agar tetap bisa menikmati kopi tanpa berlebihan.
5. Sereal Sarapan Kemasan
Banyak produk sereal dipasarkan sebagai menu sarapan praktis dan sehat. Namun beberapa jenis sereal kemasan ternyata melalui proses pemanggangan suhu tinggi yang juga dapat menghasilkan akrilamida.
Produk dengan kadar gula tinggi atau tekstur terlalu renyah biasanya memiliki risiko kandungan akrilamida lebih besar.
Sebagai alternatif, oatmeal atau biji-bijian utuh yang dimasak secara alami sering dianggap pilihan sarapan yang lebih sehat dan aman untuk dikonsumsi rutin.
Selain lebih rendah risiko, makanan berbahan alami juga kaya serat dan membantu menjaga kesehatan pencernaan.
Apakah Semua Makanan Ini Harus Dihindari?
Sebenarnya tidak perlu langsung menghindari semua makanan di atas sepenuhnya. Yang paling penting adalah menjaga pola makan seimbang dan tidak berlebihan dalam mengonsumsi makanan olahan atau yang dimasak terlalu gosong.
Mengatur cara memasak juga punya pengaruh besar. Memilih metode memasak seperti merebus, mengukus, atau memanggang dengan suhu lebih rendah dapat membantu mengurangi pembentukan akrilamida.
Selain itu, memperbanyak konsumsi sayur, buah, makanan segar, dan minum air putih cukup juga penting untuk membantu menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan.
Pola Makan Sehat Jadi Kunci Utama
Banyak penyakit serius, termasuk kanker, sebenarnya bisa ditekan risikonya lewat pola hidup sehat. Mulai dari menjaga asupan makanan, rutin berolahraga, tidur cukup, hingga menghindari kebiasaan buruk seperti merokok dan konsumsi alkohol berlebihan.
Makanan memang menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari, tetapi memilih jenis makanan yang lebih sehat bisa menjadi investasi besar untuk masa depan tubuh.
Jadi, mulai sekarang ada baiknya lebih bijak memilih makanan dan tidak terlalu sering mengonsumsi makanan yang diproses berlebihan atau dimasak terlalu gosong.



