Bukan Sekadar Iklan, Video Call Kini Jadi Cara Brand Masuk ke Cerita TV
Wisenfin – Kehadiran iklan di tengah tayangan televisi kerap menjadi momen yang kurang disukai penonton. Adegan sedang memasuki bagian penting, tiba-tiba cerita terhenti dan layar berganti dengan promosi produk.
Kondisi tersebut mendorong pelaku industri pemasaran mencari pendekatan baru. Salah satunya dilakukan LINK Group International melalui format Video Chat Message (VCM), sebuah konsep pemasaran yang membuat brand hadir langsung di dalam jalan cerita tanpa harus memotong tayangan dengan jeda iklan konvensional.
Melalui metode ini, promosi dikemas sebagai bagian dari adegan. Salah satu bentuknya adalah percakapan melalui video call yang dilakukan karakter dalam sebuah tayangan.
Brand Masuk ke Dalam Alur Cerita
Berbeda dengan iklan biasa yang berdiri sendiri, VCM berusaha membuat keberadaan brand terasa seperti bagian dari cerita.
Misalnya, karakter dalam sinetron melakukan panggilan video dengan tokoh lain. Dalam percakapan tersebut, pesan mengenai sebuah produk atau layanan dapat disampaikan tanpa harus membuat cerita berhenti secara tiba-tiba.
Konsep seperti ini membuat promosi memiliki konteks yang lebih dekat dengan aktivitas karakter. Penonton tidak hanya melihat sebuah produk muncul di layar, tetapi menyaksikannya digunakan atau dibicarakan dalam situasi yang memang terjadi di dalam cerita.
Sejumlah pesohor Tanah Air disebut telah terlibat dalam penerapan format tersebut. Di antaranya Chicco Jerikho, Titi Kamal, Ririn Dwi Ariyanti, Irwansyah, Zaskia Sungkar, hingga Aqeela Calista melalui sinetron Asmara Gen Z.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pemasaran tidak lagi selalu harus ditempatkan sebagai sesuatu yang terpisah dari konten hiburan.
Berawal dari Keraguan
Group Chief Marketing Officer (CMO) LINK Group International, Nadya Yapto, mengatakan gagasan memasukkan kampanye ke dalam alur cerita pada awalnya tidak selalu mendapatkan respons positif.
Menurutnya, konsep built-in marketing pernah dianggap terlalu berisiko karena brand ditempatkan langsung di dalam konten hiburan. Namun, pengalaman menunjukkan strategi tersebut justru dapat memberikan hasil ketika eksekusinya mampu menyatu dengan cerita.
Nadya menilai keberanian mencoba pendekatan yang berbeda menjadi salah satu faktor penting dalam membangun strategi pemasaran.
Bagi brand, tantangannya bukan hanya bagaimana mendapatkan perhatian penonton, tetapi juga bagaimana perhatian tersebut tidak berubah menjadi gangguan. Karena itu, kreativitas dalam menempatkan pesan menjadi semakin penting.
Tantangan Baru bagi Industri Periklanan
Perubahan kebiasaan penonton turut membuat industri periklanan harus beradaptasi. Audiens kini memiliki semakin banyak pilihan untuk menikmati konten, mulai dari televisi konvensional hingga berbagai platform digital.
Dalam kondisi tersebut, iklan yang terlalu mengganggu berpotensi membuat penonton kehilangan minat. Format pemasaran yang dapat menyatu dengan konten menjadi salah satu cara untuk menjaga perhatian audiens.
Group Chief Executive Officer (CEO) LINK Group International, Irsan Yapto, menilai keberanian melakukan perubahan menjadi bagian penting dari perjalanan perusahaan.
Menurutnya, perusahaan di industri kreatif tidak cukup hanya mempertahankan strategi lama. Perubahan perilaku konsumen dan perkembangan teknologi membuat pelaku usaha harus terus mencari bentuk komunikasi baru.
Konsep built-in marketing kemudian menjadi salah satu pendekatan yang dikembangkan untuk menjawab perubahan tersebut.
Tidak Berhenti di Sinetron Indonesia
Strategi pemasaran yang menggabungkan brand dengan konten hiburan ternyata tidak hanya diarahkan untuk pasar domestik.
LINK Group disebut telah membawa portofolio built-in marketing ke sejumlah serial drama Korea. Beberapa judul yang disebut dalam portofolionya antara lain Taxi Driver 3, Surely Tomorrow, Phantom Lawyer, dan Agent Kim Reactivated.
Ekspansi tersebut memperlihatkan bahwa strategi penempatan brand dalam cerita memiliki peluang untuk diterapkan pada berbagai jenis konten dan pasar.
Namun, semakin luas pasar yang dituju, semakin besar pula tantangannya. Setiap negara memiliki karakter penonton, budaya, serta gaya bercerita yang berbeda. Karena itu, penempatan sebuah brand tetap membutuhkan penyesuaian agar tidak terasa dipaksakan.
Merambah Industri Bioskop
Selain televisi dan serial digital, LINK Group juga memperluas bisnisnya ke sektor perfilman melalui unit Link Media.
Perusahaan tersebut disebut telah mendapatkan penunjukan eksklusif dari Cinema XXI untuk menangani berbagai solusi periklanan di jaringan bioskopnya.
Ruang lingkupnya mencakup iklan di layar bioskop, promosi di luar layar, hingga pengembangan konten khusus.
Langkah ini memperluas ruang bagi brand untuk berkomunikasi dengan audiens. Bioskop memiliki karakter pengalaman yang berbeda dibandingkan televisi karena penonton datang secara khusus untuk menikmati sebuah film dan berada dalam lingkungan yang lebih terkontrol.
Mengejar Pasar Regional
Ekspansi perusahaan juga tidak berhenti di Indonesia. Dengan mengusung tema ulang tahun “LINK to the World”, LINK Group menyatakan ambisinya untuk memperluas jangkauan ke pasar regional.
Tiongkok dan Vietnam menjadi sejumlah pasar yang turut dilirik dalam pengembangan bisnis ke depan.
Langkah tersebut sekaligus menunjukkan bahwa persaingan industri pemasaran semakin berkembang. Brand tidak hanya membutuhkan ruang untuk memasang iklan, tetapi juga membutuhkan cara agar pesan mereka dapat diterima secara alami oleh konsumen.
Pada akhirnya, format seperti VCM memperlihatkan bagaimana batas antara iklan dan hiburan semakin tipis. Video call yang terlihat seperti bagian biasa dari sebuah cerita kini dapat menjadi ruang baru untuk menyampaikan pesan komersial.
Bagi penonton, tantangannya adalah menikmati cerita tanpa merasa sedang terus-menerus menjadi sasaran promosi. Sementara bagi brand, pekerjaan rumahnya adalah memastikan pesan tetap menarik, relevan, dan tidak merusak pengalaman audiens.

















